Gunkanjima:2, cups

23 Februari 2009

"mbak vika, ini ya kopinya" kata seorang OG berbaju seragam merah yang diperketat, jauh lebih ketat dari seragam aslinya. "iya makasih nes" jawabku. "lembur mbak?" tanyanya sambil mengelap meja bagian depan mejaku. "mau tau aja.." jawabku santai. "ah mbak, nanya dikit aja di jutekin..". "becanda, iya nih, lagi hot-hotnya. hehe, kamu juga, kenapa gak pulang? tumben jam segini masih di kantor?" meladeni sambil mengetik keyboard usang berwarna abu-abu bermerk simbadda. "lagi nunggu jemputan mbak..". "ojek?" jawabku spontan. "bukan, suami" sambil menaruh serbet di pundaknya dan mulai beranjak pergi. "ya maap deh".

Malam ini memang terasa berat. Artikel yang seharusnya ku serahkan ke editor masih belum sempurna, narsum-begitu caraku menyebut nara sumber-masih sulit ditemukan, informasi yang kudapat hanya setingkat bacaan anak-anak bagi mereka. Belum lagi memikirkan hasil kristalisasi keringat yang 'mingguan' yah, akhir minggu sudah habis maksudnya. kerjaanku hanya menghela napas bila memang isi dompet pas-pasan. Itulah wartawan, cuma jadi bahan ejekan di masyarakat padahal udah susah-susah cari berita. Katanya media berlebihan lah, media lebay lah, informasi gak akurat lah. Mereka gak tau lecet-lecet kehitaman menghiasi tumit dan seluruh telapak kakiku karena mengejar informasi.

sesekali aku membenarkan rok bermerk Young Kiss originalku yang kubanggakan. yap bener, merk itu biasanya ngeluarin rok untuk pesta, tapi ini edisi khusus, office formal edition, tapi percuma juga. di kantor aku duduk selama 7 dari 8 jam waktu kerja.

prang! sebuah batu yang diikat bersama kertas buram dengan coretan pulpen biru menjadi 'kopi' anti lelah datang bersamaan teriakan kerasku dan warti-panggilanku untuk teman-teman wartawan wanita lain- yang spontan melindungi kepala. pecahan jendela yang tajam seakan terlihat 'baru' bagiku dan yang lainnya. jantungku berdebar kencang, aku ketakutan. seorang teman berlari melihat dan mencari siapa yang melemparnya. ternyata..

Comments