Gunkanjima: 4, nice theme

"mas Denny, gimana? udah jadi RT-nya?" tanyaku pada seorang lelaki tinggi berjanggut tipis lengkap dengan jambang yang tidak berlebihan. "slamet ya, jawabnya dengan senyum sambil mengajukan tangan untuk menyalamiku. lalu aku berjalan kearah lelaki pecinta hem putih polos bermerk mahal itu dan berkata "maksud? maksudnya apa?"."pokoknya soal RT gampang, kamu ke ruangan Pak Anta dulu pokoknya". saat itu aku hanya terdiam. Dipikiranku berkelebat beberapa memori sederhana, yah aku memang sempat mengajukan beberapa proposal pekerjaan agar aku bisa 'keluar', tapi semuanya ditolak dan kini dia memberiku harapan. menyebalkan memang, tapi begitulah bos, tak ada yang tau apa yang ada di balik dasinya,selain bulu dadanya yang lebat tentunya.

"yaudah mas, aku ke atas sebentar." kataku sambil keheranan.

tok tok..
"masuk" jawab seorang lelaki yang memang sudah tua dengan jas birunya yang khas.
"misi Pak, kata mas, eh Pak Den.."
"ya ya ya, silakan duduk Vika Derlina Putri, santai-santai." ajaknya dengan senyum sambil mematikan rokok dan mengangkat lalu menutup telpon yang tadi berdering. "Apa kabar? gimana Artikel kemarin? aman kan? kalau gak salah yang judulnya 'Poligami sosial' ya? responnya bagus loh"
"makasih Pak, tapi bukan Poligami Sosial, Polikromatik Sosial Pak.." jawabku sopan dan berusaha sopan tentunya. "ya sama saja lah, ngomong-ngomong gimana kabar pacarmu? siapa tuh namanya.. hmm.. oh si Sun itu loh, Sun" lanjutnya cepat. "maaf Pak, saya udah putus 1 tahun yang lalu dan namanya bukan Sun, tapi Shaun" jawabku malas," emangnya santen Sun?" kataku dalam hati. "ya sama saja lah, kamu tau kenapa sekarang kamu duduk disitu?"
"enggak Pak". "to the point saja lah, saya lagi ada schedule lain, gini mbak Vika, kemarin saya ketemu sama Pak Ray Silalahi, dia minta seorang Jurnalis untuk pembuatan Short Film yang nantinya mau dikirim ke festival film pendek di Jerman, kamu mau coba? yah kan kalo gak salah kamu udah 3 kali minta kerjaan di luar lewat proposal, ya kan?" katanya sambil menyandarkan tubuhnya ke single chair hitam-nya yang terlihat sangat nyaman, dan mahal. "BUKAN 3 KALI! TIGA BELAS KALI!" kecamku dalam hati. "hmm.. saya senang sekali sih Pak, tapi boleh saya minta sedikit waktu untuk memikirkannya?". "hm,boleh-boleh, tapi jangan lama-lama.. saya punya 32 orang cadangan lain." ancam bos berdasi merah ini. "satu jam, saya beri kamu waktu satu jam." lanjutnya. "i..iya Pak, tapi Pak, short filmnya itu tentang apa?"

"kalau gak salah...
psikologi pelaku-pelaku pembunuhan dan karakteristik manusia 'pemakan' organ dalam manusia"

Comments